2

Catatan perjalanan ditahun ke -5

dscf6177

Saya menikah di usia 28 tahun, saat itu secara lahir batin saya sudah merasa siap berumah tangga, Sudah melewati masa masa jadi anak kuliah lalu merasakan dunia kerja, membantu kedua orangtua  semampu saya, punya sahabat sahabat yang menyenangkan  , Terus belajar untuk memperbaiki kualitas diri sehingga saya benar benar merasa siap dalam arti sesungguh nya.

Jodoh itu? Datang dengan cara tersendiri nya, İkhtiar saya tidak ‘fokus’ harus orang Turki atau Bule, Proses ini biarlah jadi kenangan sendiri buat saya selama berikhtiar dimasa lalu..

Persoalan ‘dewasa’ memang tidak bisa di ukur dari jumlah umur, banyak yang jauh lebih siap dengan nikah muda, jujur saya salut dengan mereka yang memutuskan  menikah di usia relatif muda, Mereka sudah dimampukan secara lahir maupun batin, saya tipikal yang emang ‘agak’ mikir panjang, Bukannya ga percaya sama kuasa Alloh dalam memberikan Jodoh. Segalanya buat saya harus realistis, bertemu dan hidup bersama orang asing dlm artian kata:pasangan hidup, dengan segala karakternya yang bertolak belakang, Ga bisa saya pake kalimat: biar lah kayak air mengalir..ehmmm

Bahagia bertemu lelaki yang mempersunting? Kebahagiaan ga berakhir cuma ketika duduk dipelaminan dan memakai gaun putih nan indah, sorotan dan kekaguman dari para tamu undangan, sanak family, atau teman teman yang ‘disalip’ terpancar rasa iri karena kita sudah ga bergelar jomblo lagi?……….

Ternyata perjalanan dari kata ‘pernikahan’ itu memang setelah pesta usai….tahun pertama, masa adaftasi, masih sehangat apa yang orang bilang: duh manten anyar…..ciee…

Tahun ke dua ke 3..ketika buah hati hadir mengisi diantara pasangan, Mungkin drama baru pun segera tayang:) Ketika proses adaftasi sebagai pasangan, lalu masuk ke keluarga baru, ketika bergelar seorang menantu…., akan kah masa bulan madu berakhir….jreng jreng!

Menikah tidak hanya selembar kertas sebagai bukti: sah, halal sebagai pasangan. Menikah buat saya adalah kehidupan sesungguhnya. Bagaimana belajar bersabar, nahan emosi, mencoba memahami, dan sebagainya. Ada tanggung jawab yang besar dipundak. Project masa depan buat ‘pintu syurga’ Nya juga, siapa sih yang tidak ingin jadi sholeha sebagai muslimah ketika menikah. Pengabdian, pengorbanan….ketaatan..

Tahun ke lima, masih terbilang anak anak  yang baru masuk TK, Masih terus belajar, riak kecil pasti ada, belajar saling menerima kekurangan pasangan.

Jodoh  tidak ada yang sempurna, yang menurut kita ‘sempurna’  belum tentu menurutNya, Saling melengkapi, saling mengisi , ibarat puzzle. Dulu saya pun punya kriteria A,B,C tentang lelaki idaman.  Lalu ketika bertemu lelaki yang kini menjadi suami, dari beberapa point, hanya terisi setengah nya,..

Sering bertukar cerita dengan teman: si A bilang: dulu saya punya kriteria suami itu ada 3: ternyata yang terpenuhi dari 3, hanya 1. si B cerita, Dulu saya punya kriteria lelaki sholeh, wow sempurna sekali ketika impiannya menjadi nyata, mendapatkan suami sholeh, tapi dia lupa —Tidak pernah ada yang benar benar sempurna– ujian nya dalam rumah tangga tetap ada, suami baik, sholeh. ideal sekali, tapi permasalahan tetap ada, dia lupa. Bahwa lelaki itu datang dari sebuah keluarga besar, dia harus masuk ke keluarga suami yang ternyata jauh dari impian nya. Ujian kesabaran dsb.

Yah semua orang pasti punya problematika sendiri dalam rumah tangga, apa yang terlihat di luaran belum tentu sesempurna itu dari dalam.

Menyamakan dua isi kepala itu bukan perkara mudah.İtu yang terus saya pelajari dalam berumah tangga, ngadepin dikala emosi melanda, dikala masa sulit, argumen yang berbeda.img_6774

Menguji kesabaran, kedewasaan menyikapi segala permasalahan, berusaha untuk tidak ‘mengumbar’ di luar. Aib pasangan adalah aib kita juga, Saya sempat juga terpancing emosi ketika menulis status di sosmed, walau di setting private, mengeluh tentang pasangan. Seorang teman baik menegur dengan cara yang bijak. Terimakasih untuk diingatkan. Menahan diri juga butuh proses, apalagi godaan ibu ibu rumah tangga jaman sekarang adalah main sosmed:) Ada yang secara tidak sadar mengumbar aib keluarga nya sendiri dalam status sosmed nya, banyak yang komen, sekadar prihatin atau ‘sok nasehatin’ atau mungkin ada yang sekilas baca sambil nyinyirin..yaa ga tau kan, ngaku nya merasa ‘plong’ setelah menulis, tapi jadi bahan sedap pergunjingan di dunia maya. Banyak sudah terjadi yang seperti ini.

Target menjadi ‘sholeha’ juga butuh perjuangan, bukan ‘pengakuan’ di sosmed, Biarlah jadi perjuangan saya pribadi di hadapan Alloh SWT.

Apalagi menikah dengan orang asing—cerita yang selalu penuh warna, bertemu dengan kultur yang berbeda,adaftasi yang belum tentu semua beruntung menjalani dengan mudah. Karena yang saya alamin belum tentu sama dengan orang lain alamin walau sama sama menikah dengan Pria Turki misalnya.

Catatan perjalanan di tahun ke 5, semoga saya dimampukan jadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak anak saya.

September 2011-september 2016

MR

by keluargapanda

 

 

 

 

 

 

 

 

5

İklan ga berbayar

p_20150617_121521

Kalau teman teman yang baru datang ke İstanbul lalu mulai diserang rasa jenuh makan kebab mulu, ini ada satu restoran indonesia tepatnya di daerah zeytin burnu, kalau dari lokasi area wisata (eminonu) cukup naik tramvay dan turun saja di halte  Merkez efendi,  restoran ini tepat di dekat  jalur tramvay merkez efendi, zeytin burnu  di istanbul eropa side, atau yang baru menetap di Turki maupun istanbul, yang nyari tempat tahu dkk, banyak WNİ yang jual dan udah cukup punya nama dikalangan WNİ disini, bisa japri saya, karena ga mungkin saya beberkan kontak pribadi mereka:)

 

 

0

prosedur jalani perawatan TB di Turki

Awal 2014 saya terkena TB kelenjar, banyak sekali koment di blog ini yang menanyakan tentang TB kelenjar, saya hanya berbagi pengalaman saja sebagai orang yang kena TBkelenjar, saya bukan ahli pengobatan atau dokter ya,saya cuma berbagi info yang saya tahu dan jalani saja selama masa pengobatan di İstanbul.

Saya kena TBkelenjar semenjak di İndonesia, Tadinya saya anggap biasa aja benjolan kecil dan emang ga mengganggu, tapi entah kenapa ketika hamil anak pertama, benjolan ksemakin membesar dan sempat bernanah, jelas ini bikin saya dan suami panik. Waktu itu dokter sudah mau coba biopsi tapi karena tahu saya sedang hamil beliau mengundurkan nya dan nunggu saya siap selepas melahirkan.

Ketika si anakpanda umur4 bulanan saya kembali periksa ke dokter, pertama saya datang ke rumah sakit universitas , tempat dimana saya juga melahirkan si anakpanda, waktu itu dokter yang periksa saya masih dokter umur, karena saya juga belum tahu ini TBkelenjar, dokter ini malah menyarankan saya MRİ (MRI Dapat Membantu Identifikasi Penyakit.  Magnetic resonance imaging (MRI) atau pencitraan resonansi magnetik adalah alat pemindai yang memanfaatkan medan magnet dan energi gelombang radio untuk menampilkan gambar struktur dan organ dalam tubuh.)

Akhirnya saya ambil keputusan jalani MRİ, dengan resiko saya harus stop asi anakpanda selama 3 hari-.-‘ waktu itu masih asi eklusif , dokternya tidak menyarankan saya menyusui dulu, krn dikhawatirkan paparan radiasi zat radioaktifnya selepas saya MRİ, perjuangan saya buat stok ASİ,sempat juga nyoba susu formula,tapi yang ada anakpanda Muntah.

Hasil MRİ keluar dalam bentuk CD, saya kembali menemui dokter, di cek seluruh tubuh, hanya di bagian leher yang terdeteksi ada penyakit dan tidak menyebar ke paru, Dokter awalnya juga memang curiga TBkelenjar atau kanker kelenjar getah bening, karena bisa ada dua kemungkinan terjadinya benjolan di leher, tapi mereka berhati hati untuk mendiagnosa dan menyarankan MRİ ,apa ada penyebaran TB juga ke Paru atau yang lain, setelah dinyatakan hanya dibagian leher,saya cukup lega. İni pun belum selesai, saya masih disuruh Ultrasound bagian benjolan, jadi dirujuk kembali untuk jadwal USG, karena antrian nya seminggu di RS pemerintah, saya ambil alternatif dirumah sakit swasta untuk USG benjolan. Begitu USG keluar dan ukuran benjolan dileher sudah diketahui. Saya kembali bikin rendevu-appointment- dengan dokter di rumah sakit umum, suami ambil rendevu dengan dokter specialis-biasanya kalau di Turki di tulis Prof DR uzm ….(nama dokter) uzm-singkatan dr uzman saya kurang paham mungkin sejenis dengan kata specialis) yang jelas dokter ini emang dokter specialis penyakit dalam atau bedah-seidkit lupa:D, begitu saya masuk ruang prakteknya, serahin CD MRİ dan hasil USG, tanpa banyak omong nyuruh saya ke ruang praktek kecilnya, langsung ambil tindakan biopsi, Biopsi dilakukan dibantu asisten dokternya, Beliau mengambil sampel darah dr benjolan di leher saya yang juga sempat membengkak dan luka. Kemudian diambil tindakan lain. Sempat saya tanya apa berbahaya: beliau hanya menjawab:tunggu hasil lab nya saja, ini bukan kanker kok? disitu saya sedikit lega. Suami membawa sampel darah saya ke Lab, seminggu ke mudian hasilnya baru diketahui.

Begitu hasil Lab sudah ditangan, dokter tersebut kemudian  menyarankan saya ke dokter paru -yang biasa nanganin TBC juga, dari dokter tersebut  hanya memberi rujukan untuk saya ke klinik khusus TBC milik pemerintah. Gedung terpisah 3 lantai, khusus menangani TBC, saya bawa surat rujukan, ga serta merta langsung diberi obat: saya masih harus jalani rontgen dan USG lagi sama petugas nya disana, untuk mengukur kembali benjolan di leher, kemudian masih juga harus test mantoux, padahal ‘bukti MRİ, Biopsi, USG’ sudah menyatakan saya ada benjolan dan hasil tes darah pun ada TB- jadinya saya test mantoux dulu di lengan kiri, petugas klinik menyuntik kan sesuatu ditangan, lalu menandai bekas suntikan dengan lingkaran dan menyuruh saya untuk menunggu 3 hari, hasil reaksi suntikan tersebut, jika muncul bruntus bruntus kecil, dipastikan positif TB, bekas suntikan ini tidak boleh terkena air.

1280px-mantoux_tuberculin_skin_test

mantoux test (sumber fotomantoux)

3 Hari kemudian, dilengan saya, memang keluar bruntus bruntus di area bekas suntikan tersebut,saya kembali ke klinik TB, barulah saya diberi sekotak obat TB plus  selembar surat kontrol untuk dokter keluarga,sebagai dokter yang ditunjuk di area tinggal saya, yang akan mengkontrol saya selama terapi TBkelenjar.

Reaksi Obat? dasyat nya luar biasa, perut saya melilit,suhu tubuh saya naik, sakit kepala, gatal gatal, hampir frustrasi juga saya minum nya, setiap pagi rasanya horor harus menenggak obat TBC, apalagi saya ada bayi yang butuh perhatian. Oh ya Obat TB ga ngaruh untuk ibu menyusui, masih aman di konsumsi.

Suami terus mensupport dan mengkontrol saya untuk tertib minum Obat, ketika keluhan semakin parah, kami pergi ke sağlik Ocagi-ini sejenis puskesmas-dan ada beberapa dokter yang ditugaskan sebagai dokter keluarga per wilayah tinggal- jadi saya konsul dengan dokter keluarga di saglik oca, keluhan pengobatan TBC, kemudian beliau menulis resep beberapa back up obat lain  untuk mebantu pengobatan TB saya, ketika saya mengeluh rasa seperti maagh di perut tiap minum obat, beliau meresepkan obat maagh yang aman, lalu demam dsb, semua rekomendasi dokter tersebut yang memang sudah menjadi tugas nya membantu saya.

Tidak cuma mengandalkan Obat TB  saya juga mencoba herbal lain untuk daya tahan tubuh, hasil rekomendasi teman: saya mencoba dengan habbatusauda, beberapa teh herbal, madu, , alhamdulilah ini membantu daya tahan tubuh lebih kuat, ditambah dengan menjaga pola makan juga yg lebih sehat. Selang sebulan lebih efek dari obat obatan semakin berkurang,tadinya gatal gatal lalu hilang, maagh juga mulai berkurang, sampai benar benar total ga rasain sakit lagi di bulan ke 3, seterusnya jadi kayak minum obat biasa aja tanpa reaksi apapun yang mengganggu.

Kunci nya Sabar dan terus berpikir positif untuk kesembuhan, saya juga ngalamin proses yang menyakitkan di awal terapi obat TB, support dari orang terdekat  itu juga penting, biar  ada semangat buat jalani pengobatan.

Kalau ada keluhan lain di seputar benjolan sebaiknya konsul ke dokter, kalau belum terlalu yakin cari second opinion ke dokter specialis nya, nanya di blog juga belum tentu yang nulisnya tahu hehe krn posisi sebagai ‘mantan pasien’ saja bukan dokter ya, jadi saya selalu jawab komen apa ada nya, kalau saya tahu ya saya jawab, kalau engga saran saya tetap sama, ke dokter:) daripada saya menyesatkan entar.

Semoga yang sedang menjalani proses pengobatan TB dimudahkan ya, tetap semangat biar lekas sembuh, jaga pikiran positif,alihkan ke hal hal yang menyenangkan kalau pas reaksi obat muncul, jangan dibikin semakin stress nanti nambah nyiksa rasanya.

 

Tulisan ini berdasar pengalaman pribadi jalani pengobatan di İstanbul Turki, saya tidak tahu proses pengobatan TB di İndonesia atau di negara lain prosedurnya seperti apa, jadi kalau banyak yang tidak sama harap dimengerti, Dokter sama negara yang nanganin beda:) jadi kalau ada yang komen beda beda..perbedaan itu indah kawan..laaa apa sih:)

semua prosedur pengobatan dari awal saya  dibiayai SGK (asuransi kesehatan pemerintah) kecuali ketika USG di RS swasta,  Semua Obat TBC free dan juga obat obatan back up nya ditanggung SGK semua.

salam