cerita dari hati.

Menikah dengan pengangguran?

Bismillah!

Mungkin untuk sebagian orang keputusan saya di tahun 2011 lalu adalah keputusan gila tanpa perencanaan matang.

Hari gini! Mau dinikahin laki laki pengangguran.

Saya mengenal suami lewat dunia maya, hal yang umum di era teknologi belakangan ini. Banyak yang bertemu jodoh lewat internet, salah satunya saya dan suami.

Suami saya berasal dari tempat dimana kekhalifahan islam terakhir sempat berjaya lalu runtuh dan berubah  menjadi negara republik: turki.

Perkenalan terjadi lewat fan page salah satu grup musik sufi yang terkenal di indonesia dan memiliki penggemar juga di tanah kelahiran suami.

Awal tahun 2011 kami semakin dekat semenjak kegagalan beliau mengikuti seleksi cpns di negaranya, dia hampir frustasi karena sudah melepaskan pekerjaan terakhirnya demi seleksi wawancara di kota istanbul, 9 jam jauhnya dari kota kelahirannya di corum.

Hasilnya dia tidak lolos seleksi terakhir sebagai petugas negara, dan diapun sudah kehilangan pekerjaannya di corum.

Bertahan di istanbul menumpang hidup dirumah saudaranya, bekerja sebagai security pun dia jalani, tapi hanya  bertahan tiga bulan saja lalu dia pulang ke corum kembali.

Entah kenapa dipikirannya saat itu justru ingin serius menikahi saya, perempuan yang hanya dia kenal di internet, hubungan kami yang dekat dan saya sebenarnya diawal hanya berposisi sebagai teman untuk dia cerita keluh kesahnya.

Dalam posisi yang saya kira hanya candaan semata, tapi dia menunjukan itikad serius.

Atas restu Anne- nya*, di pihak keluarganya pun terjadi pro dan kontra dengan keputusan suami kala itu, tapi suami hanya butuh doa dan restu ibundanya, dia mantap menuju indonesia untuk menunjukan itikad keseriusannya.

Entah lah saya hanya percaya kuasa Alloh SWT dan jalan jodoh kami yang memudahkan semuanya. Serasa mustahil untuk sebagian besar orang. Saya pun harus kebal kuping mendengar kasak kusuk tetangga dengan  keputusan saya menikah dengan orang asing  yang hanya dikenal lewat internet, kasak kusuk dan penuh kecurigaan, hingga tuduhan tuduhan bahwa saya akan di jual, atau di jadikan budak ! tuduhan yang mengerikan.

Pernikahan berjalan dengan baik, banyak pihak membantu proses nya dengan mudah, bahkan mengurus izin di kedutaannya pun begitu dipermudah, urusan di KUA, urusan pesta hajatan yang hanya dipersiapkan 1 minggu, semua dipermudah jalannya.

Kami berdua hanya modal keyakinan untuk menikah karena Alloh SWT, kendati hanya mengenal lewat dunia maya, saya tidak ingin mengulur waktu, serius! menikah! dalam jangka 1 tahun lebih,Dari awal kenal hingga menikah.proses pendekatanpun terbilang singkat.

Status pekerjaan suami saya kala itu: pengangguran!

Saya dicap nekad sekali, menikah hanya karena ‘rupa’ sang lelaki. Secara materi dia belum mapan.

Keputusan gila kalau diukur dari urusan duniawi.

Datang ke negara suami, tidak ada cerita manis jalan jalan untuk bulan madu, saya langsung harus beradaftasi dengan lingkungan baru. Dari hiruk pikuk kota jakarta yang padat, pindah ke kota kecil yang sepi dan tinggal dipinggiran kota yang sunyi senyap di waktu malam, penduduk desa yang hanya berjumlah puluhan orang saja, tidak ada warung atau toko toko, semua kebutuhan pokok biasanya beli dari pusat kota yang berjarak 15 menitan.

Drastis! suami bekerja serabutan hingga akhirnya diterima kerja di pabrik tekstil. menjadi buruh. Tak sanggup juga saya bercerita kepada keluarga tentang kehidupan awal diTurki, karena sebagian keluarga pun ada yang menilai saya nekad. Saya hanya bercerita tentang segala kebaikan keluarga suami, dan alhamdulilah mereka menerima saya dengan baik dan hangat.

Menerima gaji pertama suami menafkahi saya di awal pernikahan itu rasanya luar biasa, kendati hanya diajak makan di restoran kecil, sekadar beli beberapa potong lahmacun dan segelas ayran, terasa nikmat sekali.

Banyak yang lebih beruntung dari saya di negara ini dan dinikahi pria dari negeri yang sama, tapi saya tidak pernah kecil hati lantas menaruh iri atas keberuntungan mereka yang kehidupannya secara ekonomi lebih baik dari kami. Saya terus belajar untuk bersyukur karena apapun yang sudah saya lalui, ini keputusan saya sendiri dari hati. Memilih menerima pinangan laki laki dari negeri seberang yang tidak menjanjikan tinggal di istana megah.

Bersusah payah belajar  membaur dengan kehidupan ala desa turki, pengalaman baru yang belum tentu semua orang rasakan.

Memasuki bulan ke tiga pernikahan, Suami meminta persetujuan saya. Dia ingin mencoba daftar CPNS lewat website salah satu departemen pemerintahnya.

‘ini kesempatan terakhir bagiku’ ujarnya diantara raut wajahnya yang penuh harapan.

‘Daftar’ jawab saya waktu itu.

Saya tahu pengalamannya yang dahulu, gagal ujian terakhir. Tapi apa salahnya berjuang untuk terakhir kalinya dibatas akhir syarat umur tes tersebut.

Dokumen sudah terkirim via email, dia memasukan poin kpss nya. poin 78, hasil ujian umum untuk cpns tahun lalu masih berlaku dua tahun.seleksi tahap awal: seleksi poin kpss. Lulus.

ujian ke dua: dapat panggilan dari istanbul, untuk jalani tes  fisik.

Dilema kembali melanda berkaitan urusan dengan pekerjaannya di pabrik. Tidak mudah mendapat izin.

Tapi entah kenapa tiba tiba ada temannya yang mau menggantikan pekerjaannya dan suami dapat izin untuk ke istanbul.

Saya berdoa untuk suami, doa yang terbaik mengiringi langkahnya.

Dua hari  di istanbul, hasil tes langsung keluar: syarat fisik: lulus seleksi. Yang berarti masuk tes ke tiga: interview.

setahun lalu dia pernah gagal dites ini. Kali ini saya ada bersamanya, memberi semangat dari dekat.

tes interview alhamdulilah lolos: sehari tes, hari kedua langsung keluar hasilnya, suami langsung histeris, dia berkaca kaca sambil memeluk saya, tidak percaya bahwa dia bisa lulus ujian setelah menikah, bertahun tahun dia mencoba, selalu gagal di ujian terakhir. Suami sangat bermimpi menjadi abdi negaranya, petugas berseragam, pernah tes tentara, polisi. mengorbankan masa awal kuliah yang akhirnya dia keluar demi cita cita.

cita cita teraih setelah melewati rezeki pintu pernikahan.

Menanti panggilan untuk memulai tugas barunya, kami merantau ke kota terbesar di Turki, İstanbul.

Semuanya kami mulai dari awal, mencari kontrakan flat apartemen sederhana, membeli dengan menyicil beberapa isi rumah, sebagian dapat hibahan dari kakak ipar yang memang bermukim di istanbul.

Kebahagian kamipun bertambah setelah 1 bulan suami aktif bekerja, saya dikarunia amanah, kehamilan.

Memulai kehidupan baru, hidup mandiri, suamipun mendapat pekerjaan yang dcita citakannya.

Berdasar keyakinan lah saya dulu memilih dia, lewat shalat istikharah meminta jawabanNya.

Karena saya meyakini bahwa lewat pintu pernikahan Alloh akan mencukupi hambaNya, saya tidak takut dan malu dengan keputusan saya kala itu. Cibiran dan omongan yang negatif saya saring.

Saya meyakini beliau bisa jadi imam yang baik, sifat jujurnya  yang membuat saya menerimanya.

and…..**sebenarnya ini tulisan buat ikutan kompetisi  eksis di buku**tapi kayaknya udah lewat deadline.

ehmm blm rezeki:D sama kyk dulu buat kumpulan buku diaspora indonesia, saya telat buka email nya*biasalah kesibukan İRT..tsahh**dan lupa pula paswordnya-.- tapi di kata pengantar buku, masih ada kutipan dari tulisan saya hahah…gara gara telat buka email.

Ok…ceritanya sih standar aja, bukan kayak pangeran yg mempersunting gadis jelata )jelata ya bukan melata)

yang happy happy ketika tiba dinegara baru..woeyyy luar negeri nih…hahha..gitu kan ya. lebay nya.

ya salam…semua orang sudah digariskan jalan takdirnya masing masing…, mungkin bagian saya jodoh yang berjuang dr bawah…yang ga semua ujug2 sempurnaaa…, jadi maaf ya belum bisa foto2  keliling turki:D kecuali ada yg sponsorin..yaelahh maunya.

Tapi tetap aja selalu ada hikmah dan cara bersyukur, dan tetap aja ada yang melihat saya ‘better than her or him’

padahal kl dr kita yang lihat: justru kalian yg lebih nyaman..udah bisa jalan wara wiri tanpa mikir gimana bayar ini itu:D

manusiawi lah….manusia yang ga akan nemu ujung puas lahir batinnya.

melihat kami: enjoy geboy tanpa campur tangan mertua dan pasukannya. keluarga suami yang asyik.masih bisa me time..me timeee..mau salto jumpalitan dirumah jg asyik aja. suami yang super duper ringan tangan..dalam arti mau bantuin macem2 urusan domestik İRT tanpa harus dipaksa.

kita selalu punya sudut pandang dari kacamata berbeda kalau liat kanan kiri:sama kayak saya kalo liat apartemen or rumah bagus: kapan ya punya..hahha normal ahh manusiawi..

ga akan ada cukupnya kalo ngukur standar materi.

Jadi pesan saya: tetap ga semua orang jalan hidupnya sama persis, kendati saya dinilai nekad,saya punya insting kuat jg sih kl nilai orang*jiahh dukun nihh..ettt just feeling* keyakinan saya terhadapa pilihan saya, tidak akan saya sesali.dan Alloh maha baik.

Bukan berarti pilihan saya juga tersempurna, ya tetap lah si babapanda juga kalo datang masa bertanduknya…nyebelin:D

kami terus berproses untuk menjadi manusia manusia serigala*korbansınetron-.-* ih amit2 dahh

manusia manusia yang lebih baik…terutama dari sisi rohani…,ya hidup didunia..mau dicari apalagi sih..sekarang aja kepala tiga –seremkan kepala ada tiga:0**

nabung nabung bekal akhirat… buat bekel kalau dipanggil pulang oleh yang punya nyawa ini terus ditanya sama asisten2nya: ngapain aja di dunia? umur kamu buat apa?

salah satunya saya mau jawab: saya juga nulis blog ini, bukan berniat pamer,sukur sukur ada yang bisa diambil manfaatnya,dan buang jeleknya. Semoga bermanfaat gitu:) ga sekadar tjurhatannnn 213

salam: keluargapanda:D

Advertisements

27 thoughts on “cerita dari hati.

  1. Kalo orang jawa bilang sawang sinawang ya mba Rahma. Jangankan sama WNA sama orang lokal pun saya selalu takjub bagaimana pasangan suami istri bertemu kemudian mutusin untuk menikah 🙂

    • iya jalannya jodoh suka ga terduga…kl dulu simpelnya pernah ngomong gini sama ibu:krn semua saudara rumahnya deket,lebaran ga pernah mudik2an,kumpul satu kampung,justru yg jauh pd datang. bilang:saya ntar nikahnya sama orang beda pulau, biar bs mudik naik pesawat, ternyata di ijabah, tapi pulaunya jauhnya gakira2-.-‘

  2. Aku jadi inget sama ucapannya Pak Mario Teguh “Kalau cari pria yang sudah sukses, itu susah! Karena sudah diambil dulu sama wanita yang mau menemani berjuang dari titik nol. Sudah ada wanita yang berinvestasi.”

  3. tak perlu bikin antologi, mbak. Bikin saja buku solo. Ayo siapkan dari sekarang.Kumpulkan dan klasifikasikan. kalau perlu kontak penerbit bisa ke mbak Dian Onnasis, saya juga bisa bantu2 sedikit untuk kontakkan

  4. Terharu baca tulisannya mba :’)
    Memang rejeki pernikahan itu selalu ada ya… Ridho & doa istri juga bikin suami berhasil jadi pns. Terima kasih, tulisannya bikin saya mikir & melek lbh jauh lagi 🙂 salam kenal

  5. Kalau udah jodoh ngga bakal kemana, tak harus tetangga ataupun mantan teman SMA. Tapi lewat udara dan beda benua-pun kalau udah jodoh, itu jalan surga…

    Salam hangat Mba dari Izmir 🙂

  6. Asslmkm mbak Rahma,
    terharu sy bacanya jalan Allah siapa yg mampu meramal alurnya. Subhanallah..
    there’s no accident in life, absolutely true. still believe that there’s only a coincidence? Nope 🙂
    begitupun dg alasan mengapa sy tertuju pd blog ini, tdk mgkn hny kebetulan semata. Allah membimbing sy menemukan ini walau tanpa sengaja ^_^ pst ada sesuatu yg Allah ingin sy petik dr cerita mbak Rahma. This is the first blog that I clicked after performed umrah last week, Alhamdulillah. Bersyukur sy tdk jd ambil paket plus Turki, mengapa? Karena kelak pd saat sy berkunjung kesana (Insha Allah) sy ingin bertemu mbak Rahma 🙂
    Semoga doa ikhlas yg sy panjatkan di baitullah diridoiNya, Insha Allah kita akn saling sharing cerita indah one day ya mbak *kisskiss* tunggu aku di Istanbul hehhe ting!
    If You please, You will ease our burden. Allah the Most Gracious, the Most Merciful.
    Salam hangat dan kecupan mesrah dr tanah air beta. Bahagia selalu ya mbak Rahma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s