menulis impian di langit ke tujuh

DSC01074sebagaimana biasa hobby saya gentayangan di internet kalau ada kesempatan online adalah youtube.

Nonton berbagai video*yang dulu di jakarta harus ‘sabar’ dengan jaringan internet:) rasanya terpuaskan sekarang*heheh terlalu!

Saya ga banyak merenung juga sebenarnya-.-‘ terus apa yang mau di tulis?, ya apa aja ya , blog2 saya kan eh*

Kehidupan saya 1 tahun belakangan ini memang banyak berubah, tepatnya ya setelah menikah dan siap ga siap hidup di negara suami. Keputusan memang sudah saya ambil dan meninggalkan semuanya, terlihat asyik gitu ya hidup di luar negeri??- ya bagi yang ‘sekadar’ liburan atau tugas belajar, pergi untuk kembali, rasanya ya enak enak aja, menikmati suasana lain.

Tapi memutuskan untuk pergi ke negara baru karena status pernikahan, itu butuh perjuangan besar-.-‘ Ditambah peluang untuk bolak balik ke tanah air ya syukur syukur-an, karena suami bukan diplomat atau bisnisman yang sliweran naik pesawat semudah naik bis kota. Semua harus memakai perhitungan. Apa menikah dengan orang asing terlihat ‘wow’ gitu.ehmm  lalu tiba tiba jadi ‘nyonya’ ehmm..

Waktu saya menikah aja di anggap ‘nekad’ sama teman2:) nekad dalam segala hal termasuk sisi finansial pasangan, masa nikahin pengangguran? iya benar, saya nikahin si babapanda dulu dalam status pengangguran kelas berat:) tapi kok mau? nah itu yang bingung-.-‘ pokoknya lillahi ta’ala aja gitu di hati, rezeki pasti ada.

Pelan pelan ya kerasa perjuangan kami berdua sampai seperti sekarang, kalau ngeliat ke kanan, kiri, atas, sama teman teman sesama pelaku kawin campur di sini, ya saya mah termasuk kategori kelas bawah lah:) ga bisa sering begaol:P mau ‘mamer’ apa ya, ga ada yang bisa dipamerin, kecuali si utun di perut:)

Melarat melarat masih bisa ketawa2 berdua sama si babapanda itu udah jauh lebih bermakna:* tinggal di negara secantik turki juga, status saya kan bukan turis, tapi menetap. Banyak yang mesti jadi prioritas, kebutuhan hidup sehari hari terutama.

Ya saya juga dulu orang kampung, cuma demen aja jalan kemana2 nyari pengalaman hidup, buat memperkaya pengalaman hidup, hidup di turki sebagai pengembaraan jilid baru aja. Sekarang semua harus Terprioritaskan. ya Rumahtangga.

İnget aja pas si babapanda ulangtahun: masuk angka 30, ga nyangka:) Lalu kami ngobrol ringan, ehm ternyata ‘jatah’ hidup tinggal separuh jalan.

Kalau melihat ke ‘masa lalu di belakang, masuk ke pikiran pengen nulis banyak penyesalan* tapi tutup buku aja, sesekali intip boleh lah tapi jangan di ratapi

Lalu ketika Alloh SWT mengAmanahi ‘kehidupan’ dalam rahim saya, rasanya memang luar biasa, dan terbentang tanggung jawab baru kami kelak: menjadi orangtua.

Prioritas baru kami susun untuk buah hati kami:

Apa kebahagian yang kami cari sebenarnya? -rumahtangga kami adalah syurga kami-

Dan mewujudkan impian itu butuh perjuangan berat.

Di mulai dari diri kami sendiri: -pengen kelak si _utun_ jadi anak shaleh?

lalu bagaimana caranya ?

ya ngeliat ke diri sendiri dulu, gimana ‘hablumminalloh’nya, semua juga butuh perjuangan, seperti: ada kalanya si babapanda malas sholat-.-‘ sakit dikit manjanya minta ampun, sebagai istri benar2 perjuangan buat saya menegakan ‘cahaya islam’ dirumah sendiri, daripada dia meninggalkan sholatnya, saya lebih rela ngisi air di galon dan bawa ember ke kamar, bawain handuk kecil: buat dia berwudhu.

Malas malasan ngaji, biasanya saya ‘nyerobot’ laptopnya dan buka youtube, lagi lagi video syaik mishary dengan tilawahnya mewakili kemalesan si babapanda. Tapi untuk bagian ini saya masih bersyukur tiap dia mau masuk shift malam*karena banyak waktu* beberapa surah alquran mulai tertib dia baca. Semua butuh ‘di biasakan’ saja sebenarnya.

Kalau dia udah ngoceh ‘bored’ saya lirik kitab2 tafsir risale nur koleksinya, atau ga saya yang bacain*hitung hitung  belajar bahasa turki*, pergi ke kajian kumpulan cemaat di salah satu masjid di pendik, dan semua memang harus di ‘biasa’kan.

*Saya selalu bilang sama si babapanda, inget loh usia kita sekarang dan berapa jatah umur kita lagi*

Mengingat tentang Kematian adalah nasehat kehidupan terbaik*

Dan membicarakan itu bukan hal yang tabu bagi kami berdua, sebagai ladang introspeksi diri, ketika iman naik turun, ketika emosi ga stabil.

Semua cuma perlu di ‘biasakan’ saja. Sama hal nya dengan  membuka dan membaca alquran, semenjak hamil, saya memang men-stop urusan kursus , lebih sering di rumah bertapa hehehe

mendisiplinkan diri memang bukan perkara mudah, tapi tiap hari dicoba pasti bisa menjadi kebiasaan.

Semoga sampai duedate beberapa target saya tercapai, bukan tentang stroller, perlengkapan bayi dsb*inshalloh kalau ada rezekinya semua dimudahkan*

impian yang kami ucap dalam baitan doa semoga Alloh SWT mengabulkannya…*

apa mimpi2 itu:…tunggu episode selanjutnya .heheh

Advertisements

6 thoughts on “menulis impian di langit ke tujuh

  1. tidak perlu berlebihan tapi ngepas saja. Mau beli perlengkapan bayi, pas ada rizqinya. Mau beli rumah, beli mobil…pas ada dananya. Mau ini mau itu pas dimudahkan Allah SWT. Aamiin…aamiin. Btw, kapan due datenya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s